Oct 24, 2010

Hello SHINee Part.2

Aaahhkkkk,, meLanjutkan FF memaLukan ini. Bagi kaLian yg sudah baca Part.1, ini Lanjutannya. Yang beLom baca n tertarik, bisa baca Part.1 terlebih duLu. Enjoy n don't forget with ur comment ^^
-----------------------------------------------------------------------
15 menit lebih aku menunggu. Aku lelah menunggu. Setelah hampir 1 jam didesak fans yang menggila, aku memutuskan untuk menyusul SHINee ke Ritz Carlton Hotel. Disinilah aku sekarang. Kembali berdesakan di teras hotel bersama fans yang masih tak mau melepaskan idola mereka begitu saja.

Aku baru saja hendak melangkahkan kaki menuju mobil untuk pulang ketika Hp ku berbunyi. Kutatap layar dan mengamati no yang tertera. Ini bukan no Key. Meski begitu, kuterima juga panggilannya.
 
"Hallo?" kataku lemas. Aku sudah capek berdesakan. Kuputuskan untuk duduk di pos satpam. Bagai anak hilang, aku duduk memojok sambil menyedot sisa minumanku. Entah sudah botol keberapa ini.

"Yobseo?" aaahh,, another Korean.

"... Oppa?" tanyaku ragu. Aku tidak tahu siapa yang sedang bicara di seberang sana. Suara asli, rekaman dan suara ditelp memang berbeda.

"Yah! Ini aku, Onew!" aku mengejang. Onew?? Astaga! Aku rasa aku tak akan sanggup bicara.

"Kau dimana sekarang? bian kami tidak bisa menghubungimu tadi," aku berdiri dan berjalan hilir mudik. Pos satpam sepi, karena semua pergi mengamankan hotel dari terjangan para fans. Aku mengelilingi ruangan dengan gusar.

"Yah! Kau dimana?" tanyanya lagi. Aku harus bicara apa?

"A.. Aku di pos satpam," jawabku terbata.

"Masuklah ke dalam. Sebutkan namamu pada penjaga di sana. Kami di kamar no xxx," entah panik, gugup, atau terlalu senang, aku berlari kencang menuju kerumunan dan berdesakan mendekati satpam.

"Permisi... bolehkan saya masuk?" tanyaku cepat. Hp masih menempel di telingaku, tapi kurasa sambungannya sudah terputus.

"Anda siapa? Ada keperluan apa?" satpam ini membuatku gugup.

"Sa.. saya Karin, pak. Saya ..."

"Oh! Silahkan!" belum sempat aku selesai bicara, satpam itu memotong. "Langsung saja menuju Lift ke lantai xx!"

Kukembangkan senyum termanisku dan membungkuk dalam. Begitu memasuki hotel, fans di belakang mengamuk dahsyat. Mungkin sadar kalau satpam itu tidak adil. Aku tersenyum dan mengedikkan bahu, tak perduli dengan mereka.
***
*Tok, tok, tok*

aku berdiri kaku di depan pintu. Cukup lama aku berdiri hingga akhirnya berani mengetuk pintu. Bagaimanapun, ini pertama kalinya aku bertemu langsung dengan mereka.

tak perlu menunggu lama sampai pintu dibuka. Seorang pria, putih, sipit, mancung, rambut dibelah tengah. Siapa orang ini?

"Bian, Anda mencari siapa?" tanyanya dingin. Aku hanya menahan nafas dan membungkuk.

"A, annyeonghaseo. Jonun, Karin inmida," orang itu menatapku heran. Mungkin berfikir ada juga orang Indo yang bisa Hangul Padahal hanya kalimat itu yang bisa kuucapkan.

"Siapa, Hyung?" tanya seseorang di dalam.

"Molla. Katanya namanya Karin. Dia.." belum selesai orang itu bicara, sesosok tampan menengok di belakangnya. Aku membeku. Dia Minho. Kurasa air mataku akan tumpah sekarang. Susah payah aku menahannya agar tak tampak memalukan.

"AAHH!!!" teriaknya mengejutkan. Semua orang yang ada di dalam gusar dan panik menyusul ke arahnya.

"Wae?? Wae??" tanya mereka khawatir. Mungkin takut kalau-kalau Minho ditodong.

"Karin?" tanyanya antusias. Orang-orang yang awalnya menatapnya, mengalihkan pandangan mereka ke arahku. AKu hanya bisa terpaku. Ada 6 orang di sana, dan 4 diantaranya adalah mereka. SHINee...

"NE!!" aku bahkan terkejut dengan suaraku sendiri. Seakan mimpi, bertemu mereka. Minho, Key, Taemin, JongHyun... Tunggu! di mana Onew??

"Oh! Jadi kau Karin?? Masuklah!" pria yang kuduga adalah kru mereka membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan aku masuk.

Kukembangkan senyumku yang sepertinya lebih mirip orang meringis. Aku terlalu gugup dan takut. Bagaimana kalau mereka tak menyukaiku? Aku tidak bisa bicara hangul, dan aku ragu mereka menguasai English dengan baik.

"Masuklah, Nuna" Taemin menarik tanganku dan menyeretku masuk. Ya Allah,, tangannya,, tangannya menyentuh tanganku!

Dibimbingnya aku menuju sofa dan mempersilahkan aku duduk. Aku jadi penasaran, siapa sebenarnya yang artis di sini? kenapa mereka yang menyambutku?

"Ehhmm,, welcome to Indonesia, guys. Aku benar-benar terkejut bisa bertemu kalian seperti ini,"kataku memberanikan diri.

"Ne! Anyyeonghaseo. Uri, SHINee," ya ampun. Mereka memperkenalkan diri persis seperti yang aku lihat di acara-acara TV Korea.

Aku memutuskan untuk duduk di lantai bersama kru yang lain, dan mereka pun mengikuti. Kepalaku menoleh kesana kemari, mencari dimana idola terfaforitku.

"Kau mencari apa?" tanya Key mengakrabkan diri. Aku tersenyum padanya dan memberi isyarat. Kutuding kelima jariku ke atas gulungan yang ada di tempat tidur.

"Is that Onew-sshi?"

"Hhaha! Yes. Dia langsung tidur begitu sampai ke sini. Kau tahulah, Onew condition," aku tertawa mendengar pernyataannya.

Belum ada setengah jam aku di sana, suasana jadi berubah serius. Mereka akan mengadakan konferensi pers di lobi hotel malam ini dan mereka harus briefing agar acara berjalan lancar. Jonghyun mendatangi Onew dan mengguncang tubuhnya. Onew terbangun dan membelalakkan mata selebar bola pimpong saat tahu aku duduk manis menatapnya dalam keadaan mengenaskan.

"Annyeong~" kataku lembut. Jantungku berdebar kencang saat aku melihat wajahnya. Dia begitu.. mempesona. Tampan, gagah, dan manly.

Dia menyibakkan selimutnya dan menunduk balas menyapa. Aku mengangkat tanganku dengan paksa, memeriksa hidungku. Apakah aku mimisan? semoga tidak.

Briefing berjalan selama 15 menit. Aku hanya duduk bengong mendengarkan tanpa mengerti apa yang dibicarakan. Mataku kutundukkan, menatap tanganku yang sedari tadi memainkan ujung rokku.

Briefing selesai dan mereka di make up. Yang aku heran, kenapa mereka harus memakai make up sementara wajah asli mereka sudah begitu mempesona?

Aku masih duduk ditempat semula, terus memperhatikan mereka (terutama Onew) sampai akhirnya ia menghampiriku.

"Yah! Wae? Ada yang ingin kau tanyakan padaku?" aku terlalu terkejut sampai mulutku tak bisa kukatupkan. Dia berjongkok dihadapanku dengan wajahnya yang hanya berjarak 30 cm dari wajahku. Aku menahan napas dan menggeleng cepat.

"Kita mengobrol lagi nanti. Sekarang akan ada konferensi. Pakai ini dan ikutlah!" dia mengalungkan sebuah ID padaku. Ada lambang ARIRANg dan KIFF disana. Aku menatap ID itu takjub dan menggeleng tak percaya.

Tuhan memang misterius.

Cont. Part3

Created by vhie.

No comments:

Post a Comment